Monday, May 23, 2011

Foto Presiden Soekarno Ketika Berorasi

Presiden RI Soekarno sangat terkenal dengan orasinya. tidak hanya terkenal di dalam negeri tapi juga hingga ke luar negeri. ada sebuah cerita yang cukup menarik. "Begitu pandai Bung Karno berpidato sehingga orang pun rela menghentikan pekerjaan yang sedang dilakukan untuk mendengarkan pidato Bung Karno, baik secara langsung maupun lewat pesawat radio. Di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah pernah terjadi suatu pesta pernikahan tertunda gara-gara para tamu lebih tertarik mendengarkan pidato Bung Karno yang berapi-api itu.

Bahasa Bung Karno mudah dipahami dan dimengerti masyarakat kebanyakan saat itu. dan yang tidak kalah menariknya adalah susunan kata perkata serta liukan bahasa tubuhnya yang penuh makna mampu menyihir baik yang melihat secara langsung maupun mendengarkannya. kalau istilah saya Bung Karno pandai berpuisi yang mana kata kalimat yang terucap dari beliau penuh isi, terutama puisi-puisi motivasi yang penuh daya ledak membangkitkan rasa optimisme, semangat dan menaikkan harga diri sebuah Bangsa.

Keahlian Bung Karno berpidato ini juga diakui masyarakat Internasional dan di segani di setiap negara yang dikunjunginya. Dengan gayanya yang gagah dan penuh daya, Bung Karno membuat semua orang yang hadir dalam Sidang Umum PBB di New York terkesima. dan Bung Karno adalah pemimpin di dunia satu-satunya yang berani mendobrak protokoler sidang PBB, di mana ketika berpidato didampingi ajudannya. Tak hanya itu, dalam setiap kunjungan ke luar negeri, pidato Bung Karno selalu menarik perhatian masyarakat setempat. Selanjutnya silahkan melihat sebagian foto-foto Bung Karno ketika berorasi.











sumber

Melukis Menggunakan CAHAYA Di Bunker peninggalan NAZI


Seorang photographer bernama david gilliver , menggunakan teknik photography yang dia pelajari dari pengalaman-pengalamannya ber experiment selama beberapa tahun, gilliver menyinari bunker yang dibuat oleh pasukan nazi di jerman pada perang dunia ke 2. Pemuda berumur 31 tahun ini juga menciptakan cahaya orbs dengan cahaya fixING LED  dan dia jg menggunakan beberapa light sabers koleksi nya dan lampu lalin yang dia gunakan sebagai kuas nya.
keren sekaligus indah tercampur dalam karya nya















Koran ini,Selesai Dibaca Bisa Langsung Dimakan


Apa yang biasanya Anda lakukan setelah baca koran? pasti koran itu langsung ditumpuk dan kalau sudah banyak dijual kiloan. Namun, ide awak redaksi Metro, sebuah koran yang terbit di Inggris, dan sejumlah ahli makanan benar-benar melompat keluar dari pakem itu. Mungkin terinspirasi Willy Wonka, tokoh dalam film Chocolate Factory, yang membuat segala sesuatu di sekitar kita bisa dimakan, mereka menciptakan bentuk koran Metro yang bisa dimakan. Seperti dilansir situs Metro.co.uk, kerja sama itu menghasilkan koran yang bisa dimakan. Jadi begitu selesai dibaca, koran tak perlu dibuang, tetapi langsung dimakan saja.

Heston Blumenthal, si ilmuwan kuliner, punya peran besar dalam mewujudkan ide unik ini. “Koran yang bisa dimakan ini sedikit banyak merupakan obsesi saya,” katanya. Soal rasa bagaimana? Para relawan sudah mencabik-cabik koran itu dengan gigi mereka dan menelannya. Mereka pun menganggukkan kepala dan menilai koran itu lezat. Tentu saja produksi koran itu tidak hanya membutuhkan editing yang ketat, tetapi pengolahan adonan yang cermat pula. Adonan itu sendiri terdiri atas tepung maizena, minyak sayur, permen arab, air dan asam sitrat yang dimasak hingga menjadi pasta liat dan dibentuk menjadi lembaran.

Pasta itu kemudian ditaburkan ke lembaran tipis itu melalui kasa sutra yang diatur sedemikian rupa menjadi headline, foto dan artikel. Proses pembuatan dan pencetakan koran lezat ini membutuhkan beberapa jam. Untuk mengeringkannya butuh waktu sedikit lama. Untuk polesan terakhir, koran itu diberi aroma vanila yang baunya lembut. Charles Bouquet, dari Edible Paper Company, mengatakan proyek itu akan mendorong kebiasaan daur ulang dalam masyarakat. “Kami berharap ini memberikan tambahan aroma pada berita dan menyajikan menu isu-isu terkini yang lebih berwarna.”